Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

16 Mar 2017

Simalungun Jadi Pusat Destinasi Agrowisata di Sumut

 
Bupati Simalungun JR Saragih menyatakan mengembangkan kabupaten Simalungun, Sumatera Utara sebagai salah satu destinasi agrowisata.

"Agrowisata di Simalungun menjadi salah satu pengembangan pariwisata di Danau Toba. Dengan menghidupkan agrowisata maka wisatawan memiliki banyak pilihan untuk berlibur selain Danau Toba, wisata religi, serta heritage," ucapnya lewat keterangan tertulis, Sabtu (11/3/2017).

Menurutnya, destinasi agrowisata di Kabupaten Simalungun tersebar di beberapa titik diantaranya di Kecamatan Purba, Tinggiraja, Tanah Jawa, Dolok Panribuan, Parapat, Tigarasmaka, Karanganyar serta Simarjarunjung.

"Kita akan buat semenarik mungkin, semua gratis. Paling penting semua wisatawan yang datang maupun masyarakat tidak boleh merusak lingkungan," lanjutnya tersenyum.

Dalam pengembangannya, JR Saragih juga berniat membangun tempat makan serta kegiatan aktivitas perbelanjaan sehingga agar pengemasan agrowisata menjadi lebih menarik.

Camat Dolok Panribuan Boas Manik menuturkan bila agrowisata akan memperkaya destinasi wisata yang ada di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Apalagi, destinasi tersebut saat ini masih didominasi oleh hutan lindung.

"Destinasi wisata di Dolok Panribuan yakni Balai Penelitian Kehutanan serta Camping Ground di Pondok Bulu yang kerap didatangi oleh wisatawan nusantara dan mancanegara, demi menjaganya kita akan membuat aturan yang ketat agar alam tetap terjaga dengan baik," urainya.

Hal serupa diucapkan oleh Plt. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Simalungun, Pahala Resin Sinaga yang merasa promosi akan terus dilakukan sehingga bisa membawa dampak untuk pertumbuhan perekonomian daerah dan masyarakat yang ada di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

"Kita akan membuat paket wisata yang akan bekerjasama dengan stakeholder terkait. Bagi kami, promosi sangat penting guna mengenalkan agrowisata yang ada di Kabupaten Simalungun," paparnya. (sumber)


Mengenal Eco Tourism di Barumun Nagari, Padang Sidempuan

 
Langit masih menguning di ufuk pagi. Gumpalan awan di langit menggelayut kelabu seolah masih dirundung kantuk. Beberapa saat kemudian, hangat sinar matahari menguak panorama menakjubkan di muka belantara. Hari baru telah lahir, fajar menyapa dengan ramah.

Itu hanya sekilas senyum di Desa Batunanggar, Kecamatan Batang Onang, Padang Lawas Utara, sekitar 12 jam dari Medan. Jangan pikirkan jarak. Karena suguhan bentang alam yang masih lestari yang menantang dan satwa-satwa eksotis menunggu di antara pepohonan. Rasa capai dan pusing di perjalanan akan lenyap sesampainya di beranda Danau Tasik nan cantik. Selamat datang di Kawasan Ekowisata Barumun Nagari.

Namanya memang belum akrab di telinga. Belum pula terbayang seperti apa keelokannya. Entah apa kelebihannya dibandingkan kawasan ekowisata lainnya. Tanpa bermaksud untuk membandingkan, tempat ini layak untuk dimasukkan dalam agenda perjalanan yang perlu diulang-ulang tiap tahunnya. Karena, sangat disayangkan jika pengalaman bertualang di sini hanya sekali dialami seumur hidup.

Pertanyaannya, kenapa pula bisa seperti itu? Tak sulit menjawabnya, tapi terlalu luas untuk dijelaskan dalam tulisan yang singkat. Bahkan, banyak pun foto di spot-spot penatapan yang cantik, mungkin belum bisa mewakili. Namun, seberapapun besarnya harapan dari tulisan singkat ini bisa menjelaskannya, tetap dirasa perlu. Baiklah.

Taman alam ini berada di zona penyangga kawasan Suaka Margasatwa (SM) Barumun, yakni kawasan hutan konservasi yang tidak boleh ada aktivitas apapun yang merusaknya. Dikelola dengan konsep ekowisata karena melibatkan peran serta masyarakat untuk menekan laju deforestasi kawasan hutan.

Nah, di Barumun Nagari, orang-orang dapat menyusuri koridor yang menyambungkan hutan luas dengan hutan dataran rendah di bawah (green belt) yang masih kaya akan makanan hewan langka menggunakan jeep trail. Sambilmenyusuri green belt, orang-orang apat menikmati pemandangan dan melihat hewan langka langsung seperti Siamang, Burung Rangkong, dan Rusa.

Tercatat, kawasan ini merupakan habitat enam satwa langka yang menjadi spesies kunci di SM Barumun yang sekarang dalam kondisi hampir punah, seperti harimau Sumatera, gajah Sumatera, orangutan Sumatera, Hornbill/burung rangkong, siamang dan Tapir.

Tantangan lain, adalah mountain bike trail. Di kawasan ini sudah dibangun sarana montain bike trail yang menunggu untuk dites. Prinsipnya hampir sama dengan jeep trail, namun dengan rute berbeda. Pemandangan alam yang indah dan melihat hewanlangka dapat dilakukan sambil menyusuri green belt dengan sepeda.

Kegiatan lain seperti rafting, maupun jungle track dengan menyusuri hutan belantara di dalam sekitar SM Barumun juga bisa dilakukan. Jika beruntung akan menemukan orangutan, gajah, tapir serta binatang lainnya. "Dan yang menjadi ikon kita adalah pada sabana di sekeliling dan Danau Tasik, danau eksotis yang menawan, silakan lihat sendiri dan rasakan sensasinya setelah jeep trail ataupun bike trail, dilanjutkan dengan menyeberangi danau dari ujung ke ujung," kata Manajer Program Barumun Nagari Ecotourism, Hendry Suryadi.

Dijelaskannya, konsep ekowisata yang ditawarkannya menitikberatkan pada aspek konservasi, pendidikan dan peningkatan ekonomi warga lokal. Selain menikmati sensasi petualangan dengan menggunakan mobil jeep dan sepeda wisatawan nantinya juga akan diajak secara langsung menggali kearifan budaya masyarakat lokal. Seperti misalnya melihat langsung proses pembuatan gula aren, menikmati sajian kuliner lokal "holat" dan menikmati kesenian tradisional seperti gordang sambilan.

"Ini adalah konsep wisata minat khusus. Kenapa, karena kita menawarkan petualangan, pendidikan dan budaya dari masyarakat lokal," ungkapnya.
Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) BBKSDA Sumut, Fitri Nur mengatakan, kawasan ekowisata Barumun Nagari yang merupakan penyangga SM Barumun adalah salah satu program percontohan konsep kesatuan pengelolaan hutan konservasi (KPHK) berbasis landscape yang berkolaborasi dengan berbagai pihak. Konsep pemanfaatan hasil hutan non kayu ini diharapkan bisa menekan angka gangguan kawasan dan perambahan.

"SM Barumun merupakan kawasan non taman nasional (TN) terluas yang ada di Sumut. Kawasan ini juga menjadi habitat beberapa jenis satwa kunci seperti harimau Sumatera, orang utan, siamang, burung rangkong dan beruang madu yang jika dikelola dengan memanfaatkan jasa lingkungan bisa membuka peluang bagi masyarakat sekitar kawasan dan pihak lainnya untuk mendapatkan keuntungan. Jika kesamaan visi ini terbangun kami yakin rasa mempertahankan kawasan SM Barumun juga akan terbangun," urainya.

Dengan luas kawasan mencapai 40.330 haktera juga tak lepas dari aktivitas perambahan ilegal yang dilakukan oknum penggarap. Setidaknya 1.000 hektare lebih kini sudah beralihfungsi menjadi perkebunan, tempat tinggal dan sebagainya.

"Dengan luas kawasan itu, tak seimbang dengan jumlah personil. Jadi, sangat dibutuhkan sekali peran masyarakat dalam melakukan pengasawan. Menjadikan kawasan penyangga sebagai kawasan ekowisata diharapkan menjadi solusi yang ampuh dalam melestarikan kawasan SM Barumun," terangnya.

Sebagai informasi tambahan, untuk menuju lokasi ini, dapat ditempuh dengan dua cara, yakni jalur darat dan jalur udara. Untuk jalur darat, yakni, Medan - Kisaran - Kota Pinang - Gunung Tua - Aek Godang - Batunanggar, dengan jarak tempuh 475 km dengan waktu 8 jam. Bisa juga rute Medan - Pematang Siantar - Balige - Tarutung - Sipirok - Batunanggar, dengan jarak jarak tempuh 510 km dengan waktu 9 jam.

Sementara itu, untuk jalur udara, yakni, Medan - Bandara Kualanamu - Bandara Aek Godang - Batunanggar, dengan waktu tempuh 1 jam perjalanan. Selain itu, bisa juga dari Medan - Bandara Kualanamu - Bandara Pinangsori Sibolga - Padang Sidimpuan - Aek Godang - Batunanggar, dengan waktu tempuh 3 jam. Selamat berpetualang! (sumber)


24 Des 2016

Pesawat Latih Tiongkok dan AS Sama-Samat Pamer di Dunia Maya

 
Amerika Serikat dan Tiongkok sama-sama memamerkan pesawat lahir teranyarnya di internet.

Gambar di bawah ini, yang pertama buatan Tiongkok, FTC-200, dan yang kedua buatan AS, T-X.













18 Des 2016

Bupati JR Saragih Dukung Pembangunan Islamic Center Simalungun

 
sumber
Bupati Simalungun JR Saragih mendukung pembangunan Islamic Center di komplek Masjid Agung Al Munawwaroh Perdagangan.

Keberadaan Islamic Center diharapkan dapat menjadi pusat pendidikan dan pengembangan kualitas umat Muslim di Kabupaten Simalungun. Sebagai bentuk dukungan untuk pembangunan Islamic Center tersebut, Pemkab Simalungun membantu pembiayaan sebesar Rp2 miliar ditampung dalam APBD 2017.

“Tahun depan pembangunannya bisa dimulai dan saya harapkan bisa rampung 2018,” ujar JR Saragih didampingi Wakil Bupati Simalungun terpilih, AmranSinaga, disela-sela acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1438 Hijiriah di Masjid Al Munawwaroh Perdagangan, Jumat (16/12), dilaporkan koran-sindo.com.

JR berharap Islamic Center bisa dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan dan pelatihan untuk peningkatan kualitas iman dan ketaqwaan umat Muslim di Kabupaten Simalungun. Selain itu JR juga mengharapkan ke depan seluruh calon jamaah haji Kabupaten Simalungun diinapkan di Islamic Center Masjid Al Munawwaroh sebelum diberangkatkan ke Tanah Suci.

Sementara tokoh masyarakat Muslim di Kabupaten Simalungun, SyekhMuda H Ahmad Syakban Arrahmani Rajaguguk, menyambut gembira dukungan Bupati Simalungun dalam pembangunan Islamic Center tersebut. “Masyarakat Simalungun berterima kasih atas perhatian Bupati yang mendukung pembangunan Islamic Center di komplek Masjid Al Munawwaroh.

Mudah-mudahan amal baikPak JR Saragih mendapat balasan dari Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Syekh. Dia juga mengapresiasi perhatian Bupati JR Saragih dalam pembangunan keagamaan di Kabupaten Simalungun, termasuk pembangunan rumahrumah ibadah seperti Masjid Al Munawwaroh yang dapat diselesaikan pada masa kepemimpinan JR Saragih.

28 Jan 2010

Simalungun akan jadi Supermarket CPO

Rencana membuat Sei Mangke, Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun, menjadi kluster industri berbasis pertanian dan oleochemical akan mengubah daerah itu menjadi "supermarket CPO".

Demikian dikatakan Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi saat pencanangan klaster industri berbasis pertanian dan oleochemical di Kantor Gubernur Sumut di Medan, Rabu (27/1). "Semua yang dibutuhkan terkait pemanfaatan CPO, akan ada di Simalungun," ujar Bayu.

Bayu memperkirakan, Indonesia mampu menghasilkan minyak sawit mentah sebanyak 21 juta ton pada 2010. Sedangkan pada 2020, jumlah produksi minyak sawit mentah nasional itu akan ditingkatkan dan diperkirakan mencapai 40 juta ton. Dari jumlah itu, 40 persen atau sekitar 16-17 juta ton akan dimanfaatkan menjadi oleochemical atau industri turunan. Sekitar 20 persen atau sekitar delapan juta ton akan digunakan untuk minyak makan serta 30 persen tetap diekspor sebagai minyak sawit mentah. Sedangkan sekitar 10 persen atau mencapai 4-5 juta ton akan dimanfaatkan menjadi bahan kimia untuk kepentingan industri lain.

Diakui Bayu, jika dilihat berdasarkan persentase, jumlah minyak sawit mentah yang diolah menjadi oleochemical terkesan sedikit. "Namun, nilai tambahnya akan sangat besar," pungkasnya. Menteri: Ada yang Hambat Pengembangan Sawit

Sementara itu, Menteri Perindustrian MS Hidayat mengakui beberapa pihak berupaya menghambat upaya pengembangan industri sawit nasional dengan isu lingkungan hidup.

Ini diutarakannya usai meresmikan kluster industri berbasis pertanian dan oleochemical di Kantor Gubernur Sumut di Medan, Rabu (27/1) kemarin. Hidayat mengatakan, produksi industri sawit Indonesia sangat diperhitungkan karena memiliki peranan dominan dalam perdagangan internasional.

Namun upaya ini dihambat oleh pihak yang ingin menghambat berkembangnya produk sawit nasional dan beranggapan bahwa pengembangan usaha persawitan tidak sesuai dengan upaya penjagaan kelestarian lingkungan hidup.

"Namun pemerintah sedang berupaya untuk menyelesaikan masalah itu dengan mempersiapkan beberapa payung hukum. Salah satunya adalah mempersipkan peraturan dari Kementerian Lingkungan Hidup," sebut Hidayat.

Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi sendiri menjamin pengembangan industri kelapa sawit oleh pemerintah tidak akan menggangu kelestarian lingkungan hidup.

18 Jan 2008

Hepeng Di Internet

 
Ada info bisnis tuk gabung. DAFTAR GRATIS,TANPA MODAL SEPESERPUN & DAPATKAN 50 $. (Tidak ada ruginya untuk dicoba, karena tanpa modal sedikitpun)


Sebuah bisnis MLM berstatus Global & 100% menggunakan tehnologi internet dengan memberikan kepada anggotanya berbagai manfaat & keuntungan. MLM ini akan mengelegarkan dunia bisnis MLM mulai Januari 2008¦.. bisnis ini bernama DubaiMLM. DubaiMLM akan menjadi \"THE FINANCIAL CAPITAL OF THE WORLD\", dimana rekening DubaiMLM Anda akan menjadi lebih penting daripada rekening Bank Anda. Info selengkapnya klik url di bawah ini:

http://dinar2010.dubaimlm.com

DubaiMLM akan diluncurkan secara resmi pada 30 Januari 2008. Jika Anda mendaftar sekarang (4 Anggota Baru mendaftar setiap 1 menit Sekarang!!!) dan sebelum 30 Januari 2008, Anda akan mendapatkan:
1. $50 untuk setiap Anggota Baru.
2. $10 untuk setiap Anggota Baru yang Anda sponsori.
3. $1 untuk setiap Anggota Baru di bawah Anda hingga Level 50.
4. 150 MIR Rewards Dollars.

Jadilah yang terawal kerana DubaiMLM akan memiliki 300,000 anggota sebelum hari peluncuran resminya pada 30 Januari 2008. Info selengkapnya klik url dibawah ini:

http://dinar2010.dubaimlm.com

Daftarlah sekarang Gratis sebelum 30 Januari 2008, (tidak ada ruginya untuk dicoba, karena tanpa modal sedikitpun). Anda akan mendapatkan semua manfaat dari No.1 hingga No.4 di atas, selain itu pemberian dan penyusunan downlines diberikan dan dibuatkan secara automatis. Semua fasilitas sistem pelaporan pendapatan & kelebihan DubaiMLM dapat Anda pelajari pada Member Area. Info selengkapnya klik url dibawah ini:

http://dinar2010.dubaimlm.com

19 Jul 2007

UGM: Nuclear Campus

 
Sabtu, 8 Juli 2005 Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI) menyelenggarakan workshop bertemakan energi nuklir. Hadir dalam workshop bertajuk Prospek Energi Nuklir di Indonesia ini para praktisi, pemegang kepentingan, serta ahli di bidang nuklir. Workshop yang diselenggarakan di Ruang Konferensi Program Studi Fisika, FMIPA ITB ini memberikan pemaparan menyeluruh namun singkat mengenai implementasi teknologi nuklir, mulai dari basis kebijakan pengembangan energi nuklir di Indonesia, prospek dan tantangan, teknologi reaktor, pembiayaan, hingga aspek sosial politik pengembangan energi nuklir di Indonesia.

Workshop ini dilatarbelakangi oleh munculnya kebijakan pasokan energi nasional dari energi nuklir sebesar dua persen pada tahun 2025. Wujud nyata dua persen sumber ini adalah pembangunan empat unit Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Semenanjung Muria. PLTN perdana akan mulai konstruksinya pada 2010 dan direncanakan mulai beroperasi pada 2016.

Pasokan energi nuklir yang persentasenya dua persen ini merupakan bagian dari skenario optimalisasi "energy mix" yang dikeluarkan oleh Pemerintah melalui Peraturan Presiden No. 5/2006 tentang Kebijakan Energi Mix Nasional. Indonesia memang menyadari bahwa kondisi eksisting perolehan sumber energi yang tergantung pada minyak tidaklah sehat. Karenanya kemudian disusunlah sebuah strategi berisi target penggunaan sumber–sumber lain selain minyak, gas, dan batu–bara.

Workshop ini dihadiri para pakar di bidang nuklir, seperti Ir. Ariwardojo, Deputi Kepala Badan Atom Nasional (Batan), Bidang Pengembangan Teknologi dan Energi Nuklir dan Dr. Zaki Su’ud, staf pengajar Program Studi Fisika, FMIPA ITB, seorang ahli reaktor nuklir. Mantan Kepala Batan yang sekarang duduk sebagai anggota Dewan Pengawas HIMNI pusat Ir. Iyos Subki, M.Sc, mengungkapkan bahwa workshop ini memang luas dan hanya menyentuh permukaan. "Setiap sub tema dari workshop ini bisa dijadikan seminar sehari," katanya sambil tertawa. Dr. Ari Darmawan Pasek, Ketua HIMNI cabang Jawa Barat, yang sekaligus menjabat sebagai Kepala Pusat Rekayasa Industri ITB (dulu PAU, Pusat Antar Universitas) mengakui bahwa workshop ini luas dan hanya bisa menyentuh permukaan, namun dengan memberikan pemahaman menyeluruh justru menurutnya ini diharapkan menjadi pemicu kepedulian terhadap pengembangan energi nuklir di Indonesia.

12 Apr 2007

Melanggar Binneka Tunggal Ika

 
10 Apr 07 19:54 WIB
VCD Pelecehan Islam Beredar

Probolinggo, WASPADA Online
Peredaran VCD yang berisi pelecehan terhadap agama Islam terus merambah berbagai wilayah di Indonesia, bahkan sebagian sudah beredar ke luar negeri. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengutuk pembuat VCD tersebut, Selasa (10/4). VCD SARA yang berisi kegiatan training doa yang digelar sebuah kelompok bernama Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI) Wilayah Jatilira itu direkam di sebuah hotel di Kota Batu, 17-21 Desember 2006.

Digambarkan dalam VCD berdurasi 1 jam itu, para peserta training doa mengenakan busana Muslim, bahkan sebagian mengenakan sorban. Diiringi musik, mereka menyanyikan lagu-lagu nasrani. Dalam rekaman itu juga diperlihatkan seorang pendeta yang sedang membaca doa, sementara peserta training doa lainnya menangis.

Dalam ceramahnya, seorang pemimpin kelompok itu menghina Islam dengan mengucapkan kata-kata yang tidak pantas dan sangat provokatif sambil mengangkat sebuah Mushab Alquran edisi terjemahan. Sebenarnya tak banyak yang istimewa dari video ini, selain hanya kata-kata pujian, nyanyian doa-doa dan petuah-petuah agama dari beberapa sang pemimpin agama.

Hanya saja, di antara isinya yang cukup meresahkan adalah beberapa potongan kalimat dan tindakan yang bisa dikategorikan sebagai pelecehan atau penistaan agama. Isi ringkas video ini dimulai dari nyanyian lagu-lagu ruhani olah jamaah pria dan wanita. Sebagaimana khas baju kebesaran kaum Muslim, sang wanita, rata-rata menggunakan kerudung dan baju Muslimah. Sedang sebagaian besar pria menggunakan sarung, baju koko dan kopiah haji berwarna putih.

Beberapa menit kemudian, jamaah menghentikan nyanyiannya untuk mendengar petuah seseorang. "Ada hal yang akan menghalangi pertemuan kita dengan tuhan malam hari ini, yaitu dosa….sebagai kerendahan hati kita pada tuhan. Marilah kita mengambil posisi sujud ke hadirat tuhan." Para jamaah kemudian duduk. Sebagian ada yang bersujud. Mereka berdoa sembari dipandu salah seoarang yang memimpin doa. Tak beberapa lama, acara dilanjutkan menyanyikan lagu puji-pujian kembali. Acara seperti ini, berlangsung beberapa menit.

Dalam gambar, nampak beberapa foto kegiatan bertuliskan; "Pelayanan Dalam Stop Out Malang". Ada gambar beberapa orang melakukan pelayanan sosial di tengah-tengah masyarakat. Gambar dilanjutkan dengan empat foto. Ada orang berkumpul, beberapa orang nampak mengenakan jilbab. Di atas foto ada tulisan besar berbunyi, "Friendship Evangelism" dan "Pelayanan Komunitas". Dilanjutkan foto-foto kegiatan bertuliskan, "Profesional Disciplesship Training (PDT)".

Puncaknya, ketika ada seseorang menggunakan kopiah putih (kemungkinan salah satu pemimpin) berdiri di antara para jamaah yang sedang duduk mengelilingi. Sambil berkhotbah, di tangan kirinya terlihat sedang memegang dua kitab. (belakangan kitab itu adalah Al-Quran dan Injil). "…..kalau kita dalam keadaan sehat, semata-mata karena anugrah Tuhan yang ajaib!." Dari mulutnyalah kemudian keluar kata-kata yang merupakan penistaan terhadap agama Islam.
Text Link Ads
Mengutuk
MUI Probolinggo yang mendapatkan keping VCD itu sangat mengutuk pembuat VCD tersebut. Sebab isi VCD itu bisa dikhawatirkan menimbulkan persoalan antar agama. Meskipun VCD ini belum jatuh ke tangan masyarakat, namun MUI minta polisi melakukan pencegahan.

VCD itu sudah merambah Probolinggo, Jawa Timur. VCD yang juga pernah menggegerkan Kota Batu dan Malang itu dinilai bisa menimbulkan ketegangan antar agama. "Kami minta kepada aparat keamanan untuk segera menghentikan peredaran VCD itu. Dan yang paling prinsip adalah tangkap pelakunya dan hukum," pinta Sekretaris MUI H Yasin.

Yasin belum menerima langsung adanya VCD di tangan masyarakat. "Tapi siapa yang tahu. Sangat mungkin sudah beredar," tambah dia. Ulama dan kiai di Probolinggo, kata Yasin, meminta kepolisian bergerak cepat. "Saya bilang ke Kapolres kita berlomba dengan waktu, sangat mungkin dimanfaatkan pihak pihak lain. Sangat berbahaya itu. Jangan sampai timbul konflik," kata H Yasin.

H Yasin mencontohkan upaya mengadu domba dengan isu agama saat ini mulai terjadi di Jawa Timur. Dia mencontohkan soal warga yang menghadang warga Syiah di Sampang, kemudian di Pasuruan ada isu soal aliran sesat. "Ulama dan polisi harus bahu membahu mengamankan umat," kata dia.

Meski tak jelas dari organisasi apa dan lembaga agama mana, sebagian masyoritas Muslim meyakini, kegiatan ini diselenggarakan oleh kelompok non Muslim. Namun kenyataan ini dibantah kalangan Nasrani. Ketua Umum Badan Kerja Sama Gereja (BKSG) Kota Batu, Micha NL Tobing mengatakan sudah membuat keputusan bersama terkait kasus ini untuk menepis anggapan bahwa kegiatan itu sengaja dilakukan kaum Nasrani, seperti tercantum di VCD. "Kami sangat menyesalkan beredarnya VCD ini. Karena itu, pengusutan kasus ini kami serahkan sepenuhnya ke aparat keamanan," ujarnya di Harian Surya.

16 Mar 2007

Taman Hewan Siantar

 
Peresmian Renovasi Taman Hewan Siantar dan Rahmat Galery Tetap Meriah

Mar 13, 2007 at 08:06 AM

Medan (SIB)]

Kendati Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono batal menghadiri peresmian pengembangan Taman Hewan Pematang Siantar (THS) dan DR H Rahmat Shah International Wildlife Gallery (RSIWG) Rabu (7/3) lalu, acaranya tetap meriah. Puluhan tokoh nasional dan luar negeri dari kalangan pencipta binatang tetap hadir.

Di kedua lokasi konservasi dan wisata yang dikelola Rahmat itu bahkan hadir perwakilan Kebun Binatang (zoo) negara Malaysia, Pemilik Taman Safari Indonesia Tonny Sumampau, Hotma Sitompul dan beberapa pemuka masyarakat Medan.

Awalnya, menurut Rahmat, kehadiran Presiden pada peresmian pengembangan THS bertujuan untuk meningkatkan semangat konservasi masyarakat. Sebab kehadiran THS atau kebun binatang pada umumnya memiliki fungsi berganda.

“Fungsinya bukan hanya sekedar untuk wisata belaka. Di sana kita bisa menjadikannya sarana pendidikan dan konservasi,” ungkap Rahmat kepada wartawan di Aula RSIWG, Kamis (8/3).

Selain melakukan renovasi besar di THS, Rahmat juga melakukan pengembangan RSIWG Gallery yang dibangunnya sekitar tujuh tahun silam sudah mengalami perubahan yang cukup besar. Perubahan itu dilakukan Rahmat mengingat semakin tingginya minat wisatawan asing mengunjungi satu-satunya gallery hewan liar di Asia Tenggara. Sayangnya, menurut Rahmat, kerja kerasnya itu masih belum mendapat dukungan serius dari kalangan dalam negeri.

Hal itu dibuktikan Rahmat dari masih adanya suara sumbang yang dilontarkan segelintir masyarakat terhadap kehadiran RSIWG dengan perburuan. “Seharusnya mereka mempelajari apa sebetulnya yang telah saya kerjakan ini. Seandainya saja mereka tahu, mereka akan mengerti apa sebenarnya perburuan konservasi yang saya terapkan,” tutur Rahmat.

Kendati begitu, Rahmat tetap yakin, belajar dari kenyataan yang ada, masyarakat kita akan berubah dan mengerti betul akan kerja konservasi yang dilakukannya. Apalagi saat ini dia percaya memegang kepercayaan masyarakat kebun binatang Indonesia sebagai Ketua Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia dan beberapa organisasi konservasi lainnya.

11 Mar 2007

PDAM Tirta Lihou Simalungun Dapat Anggaran Rp 2,8 M

 
Saturday 10 March 2007

PDAM Tirta Lihou Simalungun Dapat Anggaran Rp 2,8 M


Banyaknya masalah menggerogoti Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lihou Simalungun berdampak pada buruknya pelayanan kepada pelanggan. Hal ini akan segera diperbaiki dengan naiknya anggaran dari Rp 600 juta menjadi Rp 2,8 miliar.

Hal ini kemukakan Dirut PDAM Tirta Lihou Ir Benny Purba kepada Global, Jumat (9/3) di kantor DPRD Simalungun. Ia mengakui kebobrokan PDAM tidak terlepas dari nakalnya oknum petugas perusahaan yang dipimpinnya selama lebih kurang 6 bulan ini.

"Selain itu malah terjadi banyaknya sambungan liar, yang jelas mendatangkan kerugian perusahaan, karena pelanggan tidak membayar rekening. Tapi bukan itu saja, banyak juga sambungan ini karena ulah petugas yang nakal. Memasang sambungan pipa dan memungut biaya pemasangan, tetapi tidak menyetorkannya ke perusahaan," ujarnya.

Benny menyebutkan , biaya pemasangan sambungan baru pipa air PDAM maksimal Rp 660.000 tapi biaya ini tergantung jauh dekatnya lokasi. Pokoknya biaya yang disetorkan ke kantor Rp 660.000. Kenyataannya, ada petugas yang "nakal" menjaring sendiri pelanggan untuk kemudian memasang sambungan baru dan mengutip pembayaran, tetapi tidak melaporkannya ke kantor. Ini juga menjadi penyebab semakin tidak sehatnya perusahaan yang sebenarnya sudah cukup kritis.

Untuk menyehatkan perusahaan PDAM Tirta Lihou, salah satu upaya Pemkab Simalungun ke depan ,sebut Benny, mengambil langkah menaikkan tarif air minum dari yang semula Rp 480 per meter kubik menjadi Rp 650 per meter kubik.

Hal lain yang dilakukan adalah melakukan razia setiap bulan. Caranya dengan turun ke kecamatan untuk merazia pipa sambungan liar yang mencuri air dan mencek siapa petugas yang bertanggung jawab memasang instalasi air bila memang dipasang oleh petugas.

Sedangkan langkah lain, yakni menindak petugas yang bila terbukti memasang sambungan pipa liar. Dikenai berbagai tingkatan hukuman indisipliner seperti penurunan pangkat, penundaan gaji atau malah pemberhentian.

"Pokoknya, setiap petugas yang merugikan perusahaan atau telah menggunakan uang perusahaan Rp 2 juta atau lebih pasti dikenai sanksi administrasi atau malah diberhentikan. Kepada pelanggan yang diketahui pada saat razia memakai air melalui sambungan liar, diwajibkan membayar biaya pemasangan sesuai dengan peraturan yang berlaku," tegasnya.

Dirut PDAM Tirta Lihou mengakui banyak pelanggan yang tidak memakai meteran. Dari 18.000 pelanggan, berda-sarkan data hanya sekitar 10.000 yang memakai meteran. Dengan tersedianya anggaran Rp 2,8 miliar, diharapkan bisa untuk perbaikan pelayanan kepada pelanggan, sehingga ini setara dengan kenaikan tarif.

Global | Simalungun

23 Nov 2006

Sejarah Pendidikan Batak

 
SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM BATAK

Pendidikan di peradaban Batak bukanlah sesuatu yang baru. Institusi ‘partungkoan’ bisa dikatakan sebuah media yang sudah dikenal sejak dahulu kala sebagai cara untuk meneruskan ilmu pengetahuan dan sarana pengembangan sosial bagi generasi muda berikutnya.

Sejak pertama kali kedatangan Islam ke tanah Batak melalui, tanah Batak pesisir, Barus, pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting saat itu. Melihat konstelasi politik di pesisir dan tanah Batak yang berubah-ubah disinyalir bahwa sistem pendidikan Islam di tanah Batak juga berubah-ubah.

Seperti diketahui, ada dua aliran besar yang pernah memasuki tanah Batak. Pertama adalah kalangan Sunni dengan empat mazhabnya: Syafii, Maliki, Hambali dan Hanafi. Namun nampaknya pengaruh mazhab maliki tidak terlalu nampak dalam kedudayaan Islam di tanah Batak. Satu aliran lain adalah dari golongan syiah yang paling kuat menancapkan pengaruhnya di tanah Batak.

Bisa dikatakan bahwa syiahlah yang pertama sekali membentuk sistem pendidikan keagaaman di tanah Batak melalui Barus, pantai barat sumatera dan porsea danm kota-kota Batak lainnnya yang dialiri sungai asahan, dimana sumber airnya berasasl dari danau Toba.

Sistem pendidikan syiah tersebut, merupakan sistem tyang lazin dipakai di negeri-negeri Islam di tanah Arab saat itu. Perlu diketahui bahwa Universitas Al Azhar merupakan istitusi pendidikan tertua yang didirikan oleh kaum syiah. Salah satu sisa dari kejayaan syiah di tanah Batak adalah praktek tasawuf dan tarekat yang masih diamalkan oleh tetua Batak di pedalaman Batak. Sistem tarekat ini terkenal dengan sistem pembelajaran yang menggunakan kelambu. Pusat-pusat pengembangannya adalah di tanah Batak selatan, Barus dan lain sebagainya. Orang-orang dari tanah Batak utara biasanya akan pergi ke daerah-daerah tersebut untuk menimba ilmu dan mengamalkannya di kampung halaman masing-masing dengan istilah ‘mangaji’.

Pengaruh dari Hanafi dibawa oleh warga muslim Cina yang banyak datang berdagang di kawasan Batak Simalungun. Namun, sistem yang dibawa oleh kalangan Cina tersebut menyatu dengan sistem yang dibawa oleh orang-orang Persia, yang syiah sehingga sampai sekarang tidak terlalu terasa pengaruhnya. Sistem pendidikan hanafi menekankan kepada kemampuan analisa akal yang dibarengi oleh arguentasi-argumentasi dari kitab suci. Di pedalaman Batak, sistem ini ternyata sangat manjur karena kurangnya kesempatan mereka untuk kontak dengan ulama atau da’i yang tidak selalu datang untuk meng-upgrade atau memberi solusi atas masalah-masalah dan pengetahuan mereka ke desa-desa mereka yang terisolir.

Sistem pendidikan hambali yang ditandai atas kepatuhan dan kejuhudan serta penghormatan terhadap tradisi nabi mulai diterapkan saat masuknya orang-orang Padri ke tanah Batak. Sementara itu sistem syafii, yang menekankan hukum-hukum fiqih, baru terasa belakangan saat hubungan antara penduduk Batak dengan dunia luar sudah sangat minim akibat penjajahan Belanda. Paska kemerdekaan, sistem syafii ini pula yang banyak diberlakukan.

Yang dimaksud dengan sistem syafii adalah sistem pendidikan yang diterapkan oleh kalangan muslim yang bermazhab syafii di seluruh dunia. Begitu juga dengan sistem lainnya. Kalangan syafii, khusunya di Indonesia, menekankan pembelajaran kepada tokoh dan individu yang dianggap mahir dalam ilmu fiqih. Sehingga masalah dan ilmu pengetahuan apapunm yang akan mereka hadapi akan didasarkan kepada paradigma berpikir fiqhiyah.

Kalangan hambali lebih menekankan jalur hadits dan al-Quran, sedangkan kalangan hanafi lebih menekankan kemampuan filosofi dan ilmu kalam. Sementara itu kalangan syiah, sebagai sistem pendidikan yang paling tua di tanah Batak lebih menekankan kepada kemampuan memahami fenomena dunia melalui tarekat dan suluk. Agama parmalim di tanah Batak diyakini merupakan sistem kepercayaan tradisional Batak yang banyak dipengaruhi oleh cara berpikir tarekat dan suluk yang banyak berkembang di Barus pada awal-awal masuknya Islam. Istilah malim sendiri, yang berarti seorang yang dianggap parmalim, sama-sama dipakai oleh kalangan Islam dan Parmalim paska pengkristalan kepercayaan ini menjadi sebuah agama, juga berarti seorang yang alim dan dekat dengan Tuhan.

Walaupun begitu, semua sistem pendidikan tersebut, bisa saja memakai cara yang sama ketika berhadapan dengan masalah-masalah sehari-hari. Misalnya semua sistem terbut akan menggunakan ilmu hisab, ilmu hayat dan al jabar serta ilmu-ilmu lainnya untuk menangani hal-hal yang dianggap masalah duniawiyah.

Berikut adalah angka tahun pendidikan Islam di tanah Batak. Yang meliputi tanah Batak pedalaman yang sering disebut pusat tanah Batak atau Batak utara, Barus, Mandailing, Angkola atau Batak selatan, Gayo, Simalungun, Karo dan kawasan Batak di sekitar sungai Asahan sampai ke hilir sungainya di sumatera bagian timur.

633-661 M

Disinyalir pemerintahan Khulafa’ Al Rasyidin telah menjalin hubungan dengan beberapa kerajaan di Sumatera, termasuk Batak. Tapi hubungan itu masih sekedar hubungan antar negara dalam sebuah upaya untuk menjalin hubungan kerjasama ekonomi. Kapur barus, emas, merica dan rempah-rempah lainnya. Sumatera dikenal dengan istilah Zabag. Beberapa catatan mengenai kedatangan utusan dan pelaut muslim ke Barus dan pelabuhan sumatera lainnya yang dikuasasi Sriwijaya pernah didokumentasikan.

661-750

Pelaut-pelaut Arab yang Islam mulai berdatangan secara intens di masa pemerintahan Dinasti Umayyah. Kedatangan mereka untu misi dagang tersebut telah membentuk kantong-kantong muslim di tanah Batak, khususnya Barus, yang tentunya terjadinya transfer ilmu pengetahuan kepada penduduk setempat melalui medium non-formal.

718-726

Islam berkembang pesat di tanah Barus. Di lain pihak Islam berkembang di Sumatera masuknya beberapa raja Sriwijaya kepada Islam. Diantaranya Sri Indra Warman di Jambi.

730

Pedagang Arab di pesisir Sumatera mendapat persaingan dari pedagang Cina yang sangat aktif menyebarkan agama buddha mahayana. Kerajaan-kerajaan buddha dengan Sriwijaya-nya menjadi kekuatan yang sangat kuat menguasai sebagian besar pelabuhan-pelabuhan penting di Nusantara. Diyakini orang-orang Sriwijaya ini juga berhasil memasukkan ajaran Buddha ke komunitas Batak khusunya yang di Mandailing.


851

Seorang pedagang Arab berhasil mendokumentasikan kedatangannya di kota Barus. Laporan Sulaiman itu pada tahun 851 M membicarakan tentang penambangan emas dan perkebunan barus (kamper) di Barus (Ferrand 36).

Disinyalir bahwa para pendatang asing seperti Romawi, Yunani, Arab, Cina, India, Persia dan dari kepulauan Indonesia lainnya telah membangun kantong-kantong pemukiman yang lengkap dengan prasarana pendukungnya di Barus. Penambangan emas dan perkebunan kamper tersebut merupakan contoh bahwa kedua komoditas ini telah diolah secara modern dan bukan didapat secara tradisional di hutan-hutan.

Sekarang ini ahli sejarah menemukan bukti-bukti arkeologis yang memperkuat dugaan bahwa sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Islam yang awal di Sumatera seperti Peurlak dan Samudera Pasai, yaitu sekitar abad-9 dan 10, di Barus telah terdapat kelompok-kelompok masyarakat Muslim dengan kehidupan yang cukup mapan (Dada Meuraxa dalam Ali Hasymi, Sejarah Masuk dan Perkembangan Islam di Indonesia, bandung PT Al Ma'arif 1987). Kehidupan yang mapan itu pula memungkinkan mereka untuk hidup secara permanen di kawasan ini yang sudah pasti didukung oleh sarana pengembangan ilmu pengetahuan agar mereka tidak tertinggal dengan pesaing lainnya.

Sebagai pelabuhan yang sangat masyhur, Barus menjadi tujuan pendidikan tertua bagi masyarakat Batak. Hal ini dikarenakan bahwa Barus merupakan wilayah Batak yang paling mudah dicapai oleh orang-orang Batak dari pedalaman yang ingin menimba ilmu. Jalan-jalan menuju Barus telah dirintis rapi oleh pedagang-pedagang Batak yang ingin menjual kemenyan dan membeli produk jadi dari Barus. Sampai era tahun 1980-an, madrasah-madrasah tradisional Barus masih menjadi primadona tujuan pendidikan di tanah Batak sebelum akhirnya digantikan oleh Mandailing dengan pesantren-pesantrennya yang sudah modern.

Masuknya gelombang pedagang dan saudagar ke Barus mengakibatkan penduduk lokal Batak di lokasi tersebut; Singkil, Fansur, Barus, Sorkam, Teluk Sibolga, Sing Kwang dan Natal memeluk Islam setelah sebelumnya beberapa elemen sudah menganutnya. Walaupun begitu, mayoritas masyarakat Batak di sentral Batak masih menganut agama asli Batak.

Kelompok Marga Tanjung di Fansur, marga Pohan di Barus, Batu Bara di Sorkam kiri, Pasaribu di Sorkam Kanan, Hutagalung di Teluk Sibolga, Daulay di Sing Kwang merupakan komunitas Islam pertama yang menjalankan Islam dengan kaffah

900

Ibnu Rustih kurang lebih pada tahun 900 M menyebut Fansur, nama kota di Barus, sebagai negeri yang paling masyhur di kepulauan Nusantara (Ferrand 79). Sementara itu tahun 902, Ibn Faqih melaporkan bahwa Barus merupakan pelabuhan terpenting di pantai barat Sumatera (Krom 204).

Sambil berdagang, para saudagar-saudagar Batak, marga Hutagalung, Pasaribu, Pohan dan Daulay biasanya akan memberikan ceramah dan majlis pendidikan kepada penduduk Batak pedalaman. Tradisi ini masih berlangsung sampai era 1980-an di negeri Rambe, Sijungkang dan lain sebagainya. Di daerah Bakkara, komunitas yang aktif dalam pendidikan Islam adalah kalangan Marpaung sejak abad-15. Pembelajaran secara cuma-cuma dan gratis ini bisa diartikan sebagai taktik dagang untuk mendekatkan mereka dengan penduduk setempat.

976-1168

Paham syiah mulai datang ke daerah Barus. Hal itu karena ekspansi perdagangan Dinasti Fatimiyah Mesir.

1128-1204

Kota Barus, dan beberapa daerah Batak lainnya seperti Gayo pernah direbut oleh Kesultanan Daya Pasai, dengan rajanya Kafrawi Al Kamil. Ekspanasi ini terlaksana dengan motif monopoli perekonomian. Sistem pendidikan yang lebih sitematis dari kalangan syiah menjadi marak di Barus dan daerah Batak lainnya. Kalangan intelektual Batak mulai unjuk gigi. Khususnya mereka kawin campuran dengan pedagang asing dari Arab, India dan Persia. Namun penguasaan pihak Aceh tersebut berlangsung hanya sementara. Di Barus kepemimpinan Dinasti Pardosi yang menjadi penguasa tunggal menjadi kesultanan Batak muslim yang sangat kuat. Kesultanan ini mempunyai aliansi yang kuat dengan Aceh, khusunya Singkel dan Meulaboh.

Kerajaan Batak Hatorusan yang menjadi penguasa di Barus dan pesisir Sumatera bagian barat sejak abad sebelum masehi tidak tampak hegemoninya. Disinyalir keturunannya menjadi raja-raja huta di Sorkam dengan penduduknya yang bermarga Pasaribu. Pada abad ke-16, Kerajaan Hatorusan ini muncul kembali dengan naiknya Sultan Ibrahimsyah Pasaribu menjadi Sultan Barus Hilir. Dinasti Pardosi kemudian dikenal sebagai Sultan Barus Hulu.

Persaingan politik antar mereka membuat kedua kesultanan ini sering berpecah. Sultan di Hulu lebih dekat kepada Aceh dan yang di Hilir lebih dekat kepada Minang. Minang dan Aceh sendiri merupakan dua kekuatan yang saling berkompetisi dalam memperebutkan pengaruh di Barus. Baik pada saat mereka Islam maupun Buddha dan Hindu.

Kalangan intelektual Arab mulai berdatangan ke Barus. Ekspor kapur barus meningkat tajam seiring dengan meningkatnya permintaan. Barus menjadi rebutan banyak kekuatan asing dan lokal. Pada permulaan abad ke-12, seorang ahli geografi Arab, Idrisi, memberitakan mengenai ekport kapur di Sumatera (Marschall 1968:72). Kapur bahasa latinnya adalah camphora produk dari sebuah pohon yang bernama latin dryobalanops aromatica gaertn. Orang Batak yang menjadi produsen kapur menyebutnya hapur atau todung atau haboruan

Beberapa istilah asing mengenai Sumatera adalah al-Kafur al-Fansuri dengan istilah latin Canfora di Fanfur atau Hapur Barus dalam bahasa Batak dikenal sebagai produk terbaik di dunia (Drakard 1990:4) dan produk lain adalah Benzoin dengan bahasa latinnya Styrax benzoin. Semua ini adalah produk-produk di Sumatera Barat Laut dimana penduduk aselinya dalah orang-orang Pakpak dan Toba (Associate Prof. Dr Helmut Lukas, Bangkok 2003).


1275-1292

Orang-orang Hindu Jawa mulai unjuk gigi dengan Ekspedisi Pamalayu kerajaan Singosari. Beberapa daerah Batak dijadikan menjadi kerajaan Hindu, khususnya yang di Simalungun. Pihak Hindu Jawa yang menggantikan kekuatan Buddha mengancam perdagangan saudagar-saudagar muslim yang didukung oleh Kesultanan Daya Pasai dengan beberapa sekutunya seperti Kesultanan Samudera Pasai, Kesultanan Kuntu Kampar, Aru Barumun, Bandar Kalipah dan lain-lain.

1285-1522

Kesultanan Samudera Pasai mulai tampak kepermukaan dengan raja pertamanya Sultan Malik Al Shaleh, seorang putera Batak Gayo, bekas prajurit Kesultanan Daya Pasai. Samudera Pasai berdiri di atas puing-puing kerajaan Nagur di sungai Pasai, yang dirobohkan oleh orang Batak Karo.

Uniknya, kesultanan ini telah memakai paham syafii yang menjadi kompetitor terhadap syiah yang sudah lama menancapkan kekuatan politik dan budayanya kepada masyarakat Indonesia. Sistem pendidikan ala syafii mulai masuk ke tanah Batak.

Kesultanan Samudera Pasai sekarang ini dikenal sebagai kesultanan Aceh karena secara geografis memang terletak di tanah Aceh. Namun sebagai sebuah kesultanan yang dibangun oleh maha putera Batak Gayo dari Nagur, posisinya tidak dapat dihilangkan dalam percaturan sistem budaya dan pendidikan di tanah Batak.

Kerabat Sultan Malik Al Shaleh, yakni Syarif Hidayat Fatahillah merupakan tokoh yang mendirikan kota Jakarta dan menjadi Sultan Banten (Emeritus) dan ikut serta mendirikan Kesultanan Cirebon. Dia, yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, adalah tokoh yang berhasil menyelamatkan penduduk pribumi dari amukan bangsa Portugis.

Sultan Malik Al Shaleh sendiri lahir di Nagur, di tanah Batak Gayo. Dia adalah mantan prajurit Kesultanan Daya Pasai. Sebuah kerajaan yang berdiri di sisa-sisa kerajaan Nagur atau tanah Nagur. Nama lahirnya adalah Marah Silu. Marah berasal dari kata Meurah yang artinya ketua. Sedangkan Silu adalah marga Batak Gayo.

Sepeninggalannya (1285-1296) dia digantikan oleh anaknya Sultan Malik Al Tahir (1296-1327). Putranya yang lain Malik Al Mansyur pada tahun 1295 berkuasa di barumun dan mendirikan Kesultanan Aru Barumun pada tahun 1299.

Malik Al Mansyur sangat berbeda keyakinannya dengan keluarganya yang sunni. Dia adalah penganut taat syiah yang kemudian menjadikan kesultanannya sebagai daerah syiah. Dengan demikian dia dapat dijadikan sebagai tokoh Batak Syiah (Gayo). Semua ini dikarenakan karena dia menikah dengan putri Nur Alam Kumala Sari binti Sultan Muhammad Al Kamil, pemimpin di Kesultanan Muar Malaya yang syiah.

Kekuasaan Kesultanan Aru Barumun terletak di sekitar area sungai Barumun yang menjadi titik penting perdagangan antara Padanglawas sampai Sungai Kampar. Penghasilan negara didapat dari ekspor dan impor merica dan lain sebagainya.

Kesultanan Aru barumun berhubungan baik dengan pihak Cina pada era Dinasti Ming (1368-1643). Pada periode 1405-1425 beberapa utusan dari Cina pernah singgah, di antaranya Laksamana Ceng Ho dan Laksamana Haji Kung Wu Ping. Di era ini paham Hanafi ikut serta dalam memperkaya khazanah sistem pendidikan di tanah Batak, karena para utusan dari Cina yang muslim tersebut menganut faham hanafi dalam praktek sehari-hari.

Dinasti Batak Gayo di Kesultanan Barumun adalah sebagai berikut:

1. Sultan Malik Al Mansyur (1299-1322)
2. Sultan Hassan Al Gafur (1322-1336)
3. Sultan Firman Al Karim (1336-1361), pada era nya banyak bertikai dengan kekuatan imperialis Jawa Majapahit. Di bawah panglima Laksamana Hang Tuah dan Hang Lekir, pasukan marinir Aru Barumun berkali-kali membendung kekuatan Hindu Majapahit dari Jawa.
4. Sultan Sadik Al Quds (1361). Wafat akibat serangan jantung.
5. Sultan Alwi Al Musawwir (1361-1379)
6. Sultan Ridwan Al Hafidz (1379-1407). Banyak melakukan hubungan diplomatik dengan pihak Cina
7. Sultan Hussin Dzul Arsa yang bergelar Sultan Haji. Pada tahun 1409 dia ikut dalam rombongan kapal induk Laksamana Cengho mengunjungi Mekkah dan Peking di zaman Yung Lo. Dia terkenal dalam annals dari Cina pada era Dinasti Ming dengan nama “Adji Alasa” (A Dji A La Sa). Orang Batak yang paling dikenal di Cina.
8. Sultan Djafar Al Baki (1428-1459). Meninggal dalam pergulatan dengan seekor Harimau.
9. Sultan Hamid Al Muktadir (1459-1462), gugur dalam sebuah pandemi.
10. Sultan Zulkifli Al Majid. Lahir cacat; kebutaan dan pendengaran. Pada tahun 1469, kesultanan Aru Barumun diserang oleh kesultanan Malakka, atas perintah Sultan Mansyur Syah yang memerintah antara tahun 1441-1476. Kota pelabuhan Labuhanbilik dibumihanguskan dan Angkatan Laut Kesultanan Aru Barumun dimusnahkan.
11. Sultan Karim Al Mukji (1471-1489)
12. Sultan Muhammad Al Wahid (1489-1512). Gugur dalam pertempuran melawan bajak laut Portugis.
13. Sultan Ibrahim Al Jalil (1512-1523) ditawan dan diperalat oleh Portugis.

Semua anggota dinasti di atas adalah bersuku Batak Gayo. Saat menurunnya kekuasaan Kesultan Aru, maka pihak Aceh mulai menancapka hegemoninya di Aru Barumun. Pihak Aceh berkompetisi dengan para bajak laut Eropa di kekosongan kekuatan politik di daerah tersebut.

Pada tahun 1802-1816, di bawah pimpinan Fachruddin Harahap, seorang Batak Mandailing, dengan gelar Baginda Soripada, penduduk khususnya dari Gunung Tua merebut bagian hulu dari bekas Kesultanan Aru Barumun. Semua lambang kerajaan disita termasuk cap dan simbol-simbol lainnya.

1331-1364

Era Majapahit. Hegemoni kekuatan Imperialisme Hindu Jawa di Nusantara, tak terkecuali tanah Batak. Perkembangan pendidikan di tanah Batak sedikit tidak mengalami penambahan yang signifikan. Kekuatan penduduk yang menjadi militer di tanah Batak sibuk membendung kekuatan Majapahit dengan bantuan pihak Aceh.

Panglima Mula Setia dan Samudera Pasai berhasil mengusir kekuatan Majapahit dari Sumatera bagian Utara. Pada tahun 1409, tentara Majapahit dimusnahkan oleh kekuatan tentara Pagarruyung di Minang, Sumatera Barat. Kekuatan Majapahit melemah.

1345

Kedatangan para intelektual Arab dan asing kembali terjadi di beberapa kota pelabuhan di Sumatera. Tidak terkecuali Barus. Pada abad-13 Ibnu Said membicarakan peranan Barus sebagai pelabuhan dagang utama untuk wilayah Sumatera (Ferrand 112).

1450-1515

Samudera Pasai menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan sosial mazhab syafii yang bersaing melawan pusat-pusat pendidikan dan sosial syiah yang banyak bertebaran di beberapa tempat di Sumatera termasuk tanah batak.

1451

Misi pedagang dari Malaka yang menjadi sekutu Samudera Pasai berhasil menjalin kerjasama ekonomi dengan para saudagar Batak di sepanjang sungai Asahan. Tokoh seperti Datuk Sahilan menjadi inspirator bagi saudagar Batak untuk masuk agama Islam (Syafii). Di pedalaman Batak pada tahun 1450-1500 M, Islam menjadi agama resmi orang-orang Batak Toba, khususnya dari kelompok marga Marpaung yang bermukim di aliran sungai Asahan. Demikian juga halnya dengan Batak Simalungun yang bermukim di Kisaran, Tinjauan, Perdagangan, Bandar, Tanjung Kasau, Bedagai, Bangun Purba dan Sungai Karang.

Antara tahun 1450-1818 M, kelompok marga Marpaung menjadi supplaier utama komoditas garam ke Tanah Batak di pantai timur. Mesjid pribumi pertama didirikan oleh penduduk setempat di pedalaman Tanah Batak; Porsea, lebih kurang 400 tahun sebelum mesjid pertama berdiri di Mandailing. Menyusul setelah itu didirikan juga mesjid di sepanjang sungai Asahan antara Porsea dan Tanjung Balai. Setiap beberapa kilometer sebagai tempat persinggahan bagi musafir-musafir Batak yang ingin menunaikan sholat. Mesjid-mesjid itu berkembang, selain sebagai termpat ibadah, juga menjadi tempat transaksi komoditas perdagangan.

Dominasi pedagang muslim marga Hutagalung dalam bidang ekonomi di Tanah Batak terjadi antara 1513-1818 M. Komunitas Hutagalung dengan karavan-karavan kuda menjadi komunitas pedagang penting yang menghubungkan Silindung, Humbang Hasundutan dan Pahae. Marga Hutagalung di Silindung mendirikan mesjid lokal kedua di Silindung. Marga Hutagalung menjadi komunitas Islam syiah di pedalaman Batak.

Abad 15-16

Barus dengan kepemimpinan Dinasti Pardosi yang menjadi Sultan Hulu dan Dinasti Pasaribu yang menjadi Sultan Hilir Barus, membangun sistem pendidikan yang modern di Barus. Zaman kejayaan pendidikan Islam muncul di era ini. Beberapa tokoh intelektual lokal bermunculan. Barus menjadi kota tujuan utama musafir asing.

Pada permulaan abad-16, Tome Pires-seorang pengembara Portugis- yang terkenal dan mencatat di dalam bukunya "Suma Oriental" bahwa Barus merupakan sebuah kerajaan kecil yang merdeka, makmur dan ramai didatangi para pedaganga asing.

Dia menambahkan bahwa di antara komoditas penting yang dijual dalam jumlah besar di Barus ialah emas, sutera, benzoin, kapur barus, kayu gaharu, madu, kayu manis dan aneka rempah-rempah (Armando Cartesao, The Suma Oriental of Tome Pires and The Book of Rodrigues, Nideln-Liechtenstein: Kraus Reprint Ltd,.1967; hal. 161-162).

Seorang penulis Arab terkenal Sulaiman al-Muhri juga mengunjungi Barus pada awal abad ke-16 dan menulis di dalam bukunya al-Umdat al-Muhriya fi Dabt al-Ulum al-Najamiyah (1511) bahwa Barus merupakan tujuan utama pelayaran orang-orang Arab, Persia dann India. Barus, tulis al-Muhri lagi, adalah sebuah pelabuhan yang sangat terkemuka di pantai Barat Sumatera.

Pada pertengahan abad ke-16 seorang ahli sejarah Turki bernama Sidi Ali Syalabi juga berkunjung ke Barus, dan melaporkan bahwa Barus merupakan kota pelabuhan yang penting dan ramai di Sumatera. (Lihat. L.F. Brakel, Hamza Pansuri, JMBRAS vol. 52, 1979).

Sebuah misi dagang Portugis mengunjungi Barus pada akhir abad ke-16, dan di dalam laporannya menyatakan bahwa di kerajaan Barus, benzoin putih yang bermutu tinggi didapatkan dalam jumlah yang besar. Begitu juga kamfer yang penting bagi orang-orang Islam, kayu cendana dan gaharu, asam kawak, jahe, cassia, kayu manis, timah, pensil hitam, serta sulfur yang dibawa ke Kairo oleh pedagang-pedagang Turki dan Arab. Emas juga didapatkan di situ dan biasanya dibawa ke Mekkah oleh para pedagang dari Minangkabau, Siak, Indragiri, Jambi, Kanpur, Pidie dan Lampung. (Lihat B.N. Teensma, "An Unkown Potugese Text on Sumatera from 1582", BKI, dell 145, 1989.

Syair-syair Hamzah Fansuri menggambarkan keindahan kota Barus saat itu. Keramaian dan kesibukan kota pelabuhan dengan pasar-pasar dan pandai emasnya yang cekatan mengubah emas menjadi "ashrafi", kapal-kapal dagang besar yang datang dan pergi dari dan ke negeri-negeri jauh, para penjual lemang tapai di pasar-pasar, proses pembuatan kamfer dari kayu barus dan keramaian pembelinya, lelaki-lelaki yang memakai sarung dan membawa obor yang telah dihiasi dalam kotak-kotak tempurung bila berjalan malam.

Gadis-gadis dengan baju kurung yang anggun dan di leher mereka bergantung kalung emas penuh untaian permata, yang bila usia nikah hampir tiba akan dipingit di rumah-rumah anjung yang pintu-pintunya dihiasi berbagai ukiran yang indah.

Pada bagian lain syair-syairnya juga memperlihatkan kekecewaanya terhadap perilaku politik sultan Aceh, para bangsawan dan orang-orang kaya yang tamak dan zalim. (Mengenai kesusateraan Hamzah Fansuri lihat S.N. al-Attas, The Origin of Malays Sha'ir, Kulala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1968. Juga baca V.I. Braginsky, Tasawuf dan Sastra Melayu, Jakarta: RUL,. 1993, khususnya esai "Sekali Lagi Tentang Asal-usul Sya'ir"; hal 63-76.

Hamzah Fansuri yang hidup di masa perebutan kekuatan maritim antara Aceh dan Minang mendapat pengaruh besar di kalangan intelektual Aceh. Van Nieuwenhuijze (1945) dan Voerhoeve (1952) berpendapat bahwa Hamzah Fansuri memainkan peran penting di dalam kehidupan kerohanian di Aceh sampai akhir pemerintahan Sultan Ala'uddin Ri'ayat Syah Sayyid al-Mukammil (1590-1604).

Sementara itu muridnya Syamsuddin al-Sumatrani naik peranannya baru pada zaman Sultan Iskandar Muda saat dia bermigrasi ke Aceh. Diyakini dalam mundurnya pamor Barus, banyak sarjana-sarjana Batak yang pindah ke Aceh, Kutaraja, karena kehadiran mereka disana sangat disegani. Mengenai Syamsuddin sebaiknya baca C.A.O. Niewenhujze, Syamsu'l Din van Pasai, Bijdrage tot de Kennis der Sumatranche Mystiek, disertasi Universitas Leiden, 1945.

Namun pemikiran filsafat Wujudiyah Hamzah Fansuri mendapat tantangan dari ulama Aceh. Ahmad Daudy di dalam bukunya Allah dan Manusia dalam konsepsi Syeikh Nuruddin Ar-Raniry, Jakarta; CV Rajawaki Press, 1983; hal. 41, antara lain menulis, "Selain sebagai mufti, Syeikh Nuruddin juga seorang penulis yang menyanggah Wujudiyah. Seringkali ia mengadakan perdebatan dengan penganut ajaran ini, dan kadang-kadang majelis diskusi diakadakan di istana dimana sultan sendiri menyaksikannya.

Dalam perdebatan itu Syeikh Nuruddin berkali-kali memperlihatkan adanya kelemahan dan penyimpangan dalam ajaran Wujudiyah...., serta meminta agar mereka ini bertobat... tetapi himbauannya tidak dihiraukan mereka, dan akhirnya mereka dihukum kafir yang boleh dibunuh, sedangkan kitab-kitab karangan Hamzah dan Syamsuddin dikumpulkan dan kemudian dibakar di halaman mesjid raya Baiturrahman."

Tentang peristiwa pembakaran kitab karangan penulis Wujudiyah, dan hukum bunuh terhadap pengikut-pengikut Hamzah Fansuri dan Syamsuddin, Lihat buku Nuruddin al-Raniry, Bustan al-Salatin edisi T. Iskandar, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1966: hal. 46.

Perlakuan itu diterima Hamzah Fansuri, karena kritik-kritik tajamnya terhadap pemerintahan monolitik Sultan Aceh, perilaku buruk orang-orang kaya dan praktik yoga (dari Hindu India) yang diamalkan ahli-ahli tarekat di Aceh pada awal abad ke-17, baca S.N. al-Attas The Mysticism of Hamzah Fansuri, Kuala Lumpur: Universiti malaya Press, 1970; hal. 16-17. juga baca L.F. Brakel, 'Hamzah Pansuri'; V.I. Braginsky "Puisi Sufi Perintis Jalan" (Analisis Syair-syair Hamzah Fansuri tentang Kekasih, Anggur dan Laut") ceramah di Sudut Penulis, Dewan Bahasa dan Pusataka, Kuala Lumpur, 27-28 Oktober 1992; juga Abdul Hadi W.M. 'Syeikh Hamzah Fansuri 'Ulumul Qur'an, No. 2, Vol. V, 1994.

Akibat pertentangan politik antara Barus dan Aceh, berakibat pula kepada pertentangan faham keyakinan. Intelektual Barus yang banyak condong ke paham syiah dibasmi oleh kekuatan Aceh sehingga menyebabkan kemunduran atas kemajuan pendidikan di Barus. Dikatakan bahwa orang-orang yang mendukung faham Fansur bahkan harus hidup dalam persembunyian untuk menyelamatkan jiwa mereka. Kuburan-kuburan tokoh yang sepaham dengannya sengaja tidak ditandai batu nisannya agar keberadaan mereka tidak terdeteksi oleh pihak Aceh yang penduduknya banyak berdagang di Barus.

Para sarjana Batak yang berpaham syiah mengalami kendala dalam melanjutkan sistem pendidikan di Barus yang sudah sangat modern saat itu. Praktis pendidikan di Barus dan wilayah-wilayah Batak lainnya mengalami kepunahan. Di tanah Batak sendiri hanya Parmalim yang terus eksis.

1497-1513

Panglima Manang Sukka, oranga Batak Karo, mendirikan Kesultanan Haru Delitua dengan nama Sultan Makmun Al Rasyid.

1697

Universitas Islam Ulakan, Pariaman, Sumatera Barat, menjadi pusat pengembangan Islam syiah dengan tokoh Syekh Burhanuddin. Pengaruh universitas ini sampai ke tanah Natal, Singkuang, teluk Sibolga dan Barus. Sumatera Barat menjadi tujuan mencari ilmu pengetahuan bagi orang-orang Batak

1804-1807

Dominasi sistem pendidikan berbasis syiah yang sedikit dicampur dengan faham syafii dan hanafi mendapat kompetisi dari mazhab hambali yang muncul di Sumatera Barat dengan gerakan padrinya.

1873

Sebuah mesjid di Tarutung, Silindung, dirombak oleh Belanda. Haji-haji dan orang-orang Islam, kebanyakan, dari marga Hutagalung, diusir dari tanah leluhur dan pusaka mereka di Lembah Silindung. Belanda melakukan pembersihan etnis, terhadap muslim Batak.

1912

Perkembangan Islam, yang tidak diperbolehkan Belanda untuk mengecap pendidikan, walau paska kebijakan balas budi, kemudian bangkit mendirikan Perguruan Mustofawiyah. Disinyalir sebagai sekolah pribumi pertama di tanah Batak yang sudah modern dan sistematis. Peran mazhab syafii mulai terlihat.

Haji Mustofa Husein Purba Baru, dari marga Nasution, merupakan penggagas perguruan ini. Dia, yang dikenal sebagai Tuan Guru, merupakan murid dari Syeikh Muhammad Abduh, seorang reformis dan rektor Universitas Al Azhar.

Lulusan perguruan Musthofawiyah ini kemudian menyebar dan mendirikan perguruan-perguruan lain di berbagai daerah di Tanah Batak. Di Humbang Hasundutan di tanah Toba, alumnusnya yang dari Toba Isumbaon mendirikan Perguruan Al Kaustar Al Akbar pada tahun 1990-an setelah mendirikan perguruan lain di Medan tahun 1987. Daerah Tatea Bulan di Batak Selatan merupakan pusat pengembangan Islam di Sumut.

Pada tahun 1928, di tanah Batak selatan mulai memodernisasi sistem pendidikan oleh para sarjana Batak yang belajar dari berbagai universitas di luar negeri. Di antaranya Maktab Ihsaniyah di Hutapungkut Kotanopan oleh Muhammad Ali bin Syeikh Basyir. Maktab merupakan transformasi partungkoan, sebuah sistem pendidikan tradisional Batak yang berubah menjadi sikola arab dan madrasah di era berikutnya. (lihat: Pesantren Musthofawiyah Purba Baru Mandailing, Dr. H. Abbas Pulungan, Cita Pustaka Media Bandung, 2004).

Para lulusan Maktab Islamiyah Tapanuli mendirikan "Debating Club" pada tahun 1928. Dua tahun kemudian anggota "Debating Club" ikut serta dalam mendirikan Jamiatul Washliyah sebuah organisasi pendidikan dan sosial di Sumatera Utara.

Diniyah School didirikan di Botung Kotanopan tahun 1928 oleh sarjana Batak lainnya, Haji Fakhruddin Arif. Berikutnya berdiri Madrasah Islamiyah di Manambin Kotanopan tahun 1928 oleh Tuan Guru Hasanuddin.

1929

Madrasah Subulussalam berdiri di Sayur Maincat Kotanopan pada tahun 1929 oleh Haji Muhammad Ilyas. Berikutnya Madrasah Syariful Majalis di Singengu Kotanopan pada tahun 1929 oleh Haji Nurdin Umar. Di Hutanamale, Maga, Kotanopan Syeikh Juneid Thala mendirikan sebuah Madrasah Islamiyah pada tahun yang sama.

1930

Orang-orang Batak mendirikan Jamiatul Washliyah pada tanggal 30 November 1930. Sebuah organisasi yang bertujuan untuk mengembangkan agama dalam arti yang luas. Organisasi ini memakai mazhab syafii.

Nama Jamiatul Washliyah berarti perkumpulan yang hendak menghubungkan. Menurut Muhammad Junus, tokoh paling penting dalam organisasi ini, nama Jamiatul Washliyah dihubungkan dengan keinginnan untuk menghubungkan manusia dengan Tuhannya, menghubungkan antar sesame manusia, menghubungkan suku dengan suku antara bangsa dengan bangsa dan lain sebagainya. Lihat "Peringatan Al Djamiatul Washliyah 1/4 abad" hal 41-42; Nukman Sulaiman dalam Al Washliyah I, hal. 5.

Tiga tokoh penting dalam organisasi Al Washliyah adalah Abdurrahman Syihab, seorang organisatoris yang dapat menghimpun khalayak ramai, Udin Syamsuddin, seorang yang ahli administrasi dan Arsyad Thalib Lubis, mufti organisasi.

1933

Pembentukan komisi yang bertugas mengadakan inspeksi ke sekolah-sekolah Alwashliyah untuk standarisasi mutu. Didirikan juga sebuah lembaga pendidikan yang besar di Tapanuli Selatan.

1934

Penyusunan peraturan yang mengatur hubungan antar sekolah di Alwashliyah

1935

Pada tahun ini Madrasah Mardiyatul Islamiyah didirikan di Penyabungan oleh Syeikh Ja'far Abdul Qadir. Sebelumnya, sejak tahun 1929, madrasah ini dikenal dengan nama madrasah mesjid karena kegiatan pendidikannya dilakukan di sekitar sebuah mesjid sebelum dimodifikasi menjadi sistem madrasah.

1936

Orang-orang Batak mendirikan Fond atau Yayasan untuk mengirimkan beberapa generasinya, khususnya yang di Alwashliyah, ke Mesir

1937

Jamiatul Washliyah memberikan perhatian khusus pada pemahaman Islam khusunya mereka yang belum beragama. Di Porsea didirikan HIS untuk mereka yang membutuhkan pendidikan. Melalui lembaga "Zending Islam" perkumpulan ini berinisiatif untuk berdakwah ke seluruh Indonesia.

1940

Modernisasi pendidikan Islam Batak, khususnya yang di Alwashliyah dengan menyusun peraturan pusat untuk mengadakan ujian dan pemberian ijazah yang dikeluarkan kantor pusat di medan.


1945

Sistem pendidikan modern diterapkan di tanah Batak. Banyak madrasah dan tempat pengajian tradisional diubah menjadi tsanawiyah dan aliyah dibawah departemen agama. Negatifnya adalah, institusi pendidikan di tanah Batak menjadi kerdil. Institusi yang bermutu yang lulusannya bisa ditandingkan dengan lulusan universitas modern akhirnya hanya diakui sebagai lulusan madrasah aliyah yang pengakuannya sangat minimal di tengah-tengah masyarakat. Banyak desa-desa di tanah Batak (khususnya yang utara) ditinggalkan oleh penduduknya yang muslim karena ketiadaan regenerasi kalangan pendidik.

Links